STAI YAMISA SOREANG

Jl. Raya Soreang No. 134 Desa. Pamekaran Kec. Soreang Kab. Bandung

Terakreditasi "B"

MODEL PEMBERIAN HUKUMAN DI MADRASAH DAN ALTERNATIF HUKUMAN YANG MENDORONG ETOS BELAJAR FIKIH ISLAM

Rabu, 16 Agustus 2017 ~ Oleh Admin ~ Dilihat 144 Kali

 

 

Oleh : Hery Saparudin, S.Pd.I, M.Pd.I

 

Abstrak :

“Belajar merupakan suatu proses usaha yang dilakukan seseorang untuk memperoleh suatu perubahan tingkah laku yang baru secara keseluruhan, sebagai hasil pengalamannya sendiri dalam interaksi dengan lingkungannya, meliputi aspek kognitif, afektif dan psokomotor. Sedangkan menurut konsep dasar yang diperkenalkan UNESCO (United Nations Educations, Scientific and Culture Organization), keberhasilan pendidikan terhadap peserta didik, diukur dengan lima kemampuan dasar, yaitu:  to know (meraih pengetahuan), to do (berbuat sesuatu), to be ( menjadi diri sendiri), to live to gether (hidup berdampingan), dan to know good’s creation (mengenal ciptaan tuhan) sehingga lulusannya mampu menciptakan lulusan yang memiliki keseimbangan antara kulaitas ilmu/intelektual, iman dan akhlak”.

 

Kata Kunci :Belajar, Funishmen, Motivasi, Pendidikan.

 

Pendahuluan

Dalam pendidikan Islam metode mengajar yang efektif dan terarah sangat dibutuhkan untuk mewujudkan hal tersebut. Karena berhasil dan tidaknya tujuan pendidikan tergantung proses belajar yang dialami oleh peserta didik. Peran aktif guru atau ustad (tenaga pendidik) dalam hal ini sangat diperlukan untuk mempengaruhi karakteristik kognitif, afektif, maupun psikomotor siswa atau santri, dengan memberi dorongan moral, membimbing, memberi fasilitas belajar terbaik melalui metode pembelajaran.

Diantara metode yang umum dipakai dalam proses belajar mengajar adalah dengan menggunakan pendekatan hukuman terhadap para santri atau siswa secara prefentif maupun refresif, dengan harapan dapat mencegah berbagai pelanggaran terhadap pelaturan, atau sebagai tindakan peringatan keras yang sepenuhnya muncul dari rasa takut terhadap ancaman hukuman. Hukuman merupakan salah satu instrumen pengukuran pendidikan bagi kualitas fungsional edukatif siswa atau santri yang bermasalah maupun yang berprestasi. Hukuman adalah vaksinasi dini dalam konteks mendidik yang layak diberikan kepada mereka yang bermasalah.

Hukuman adalah sesuatu yang disyariatkan dan termasuk salah satu sarana yang sesekali mungkin diperlukan pendidik. Hukuman dalam pendidikan berfungsi sebagai alat pendorong untuk meningkatkan belajar anak didik. Hukuman merupakan imbalan dari perbuatan yang tidak baik. Dalam al-qur’an disebutkan :

 

Artinga : “barang siapa yang mengerjakan keebaikan seberat dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balasan)-nya pula. Dan barang siapa yang mengerjakan kejahatan sebesar dzarah pun, niscaya dia akan melihat (balaan)-nya pula”. (QS. Az-zalzalah : 7-8).

Ayat tersebut diatas menjelaskan bahwa setiap orang yang melakukan kebaikan pasti akan mendapatkan ganjarannya. Demikian juga orang yang melakukan kejelekan maka dia akan mendapatkan hukuman. Ada memang orang yang mengatakan bahwa hukuman tidak relefan lagi diaplikasikan di era modern dan sama sekali tak berpengaruh pada keberhasilan belajar. Namun hemat peneliti perkataan itu tak selamanya benar. Sebab dalam batas-batas tertentu hukuman mempunyai makna yang sangat penting. Terlebih memberikan hukuman bukanlah hal yang gampang, seperti melempar batu kedalam air, tetapi ada teknik dan cara tertentu agar peserta didik tetap merasa aman.

Masih banyak kalangan pendidik ataupun lembaga pendidikan yang bersikap kejam terhadap anak didiknya yang melakukan kesalahan kecil terkadang hanya karena lupa membawa buku pelajaran atau tidak bisa menjawab soal saja anak didik langsung dipukuli dan dicaci-maki. Tindakan seperti itu masih ditemukan dilembaga-lembaga pendidikan. Apalagi pada lembaga pendidikan pesantren. Metode pengajaran keseharian para kyai atau ustadz lebih menampakan punishment ( hukuman ) dari pada reward ( ganjaran ). Secara psikis kondisi ini menyebabkan aanak berada dalam ketakutan, yang berujung pada rendahnya kecerdasan dan prestasi belajar serta jauh dari kreatif dan tidak berani menyampaikan gagasan. Padahal sesungguhnya hukuman sebagai salah satu alat pendidikan yang bersifat refresif memiliki fungsi tersendiri jika ditrapkan dengan benar. Namun jika seorang guru mengobral hukuman, maka akan menimbulkan ekses negatif bagi peserta didik.

Mengenai hukuman yang dikenal dalam dunia pendidikan , menurut muhammad Athiyah Al-Abrasyi dalam karyanya attarbiyah al-islamiyyah dimaksudkan bahwa, hukuman atau punishment (al’uqubah) lebih sebagai usaha edukatif untuk memperbaiki dan mengarahkan santri ke arah yang benar (al-irsyad wa al-ishlah) bukan semata-mata praktik hukuman dan siksaan yang memasung kreatifitas ( al-Zajr wa al-intiqam), melainkan sebagai usaha untuk mengembalikan menjadi pribadi yang imajinatif, kreatif dan produktif,

Guru atau ustad tak ubahnya sebagai seorang dokter yang harus memahami pasiennya. Bila dokter mengobati seluruh pasiennya dengan satu macam obat saja, tentu banyak dari mereka yang akan mati. Begitu pula jika seorang guru atau ustadz membawakan satu macam obat, sistem dan latihan kepada seluruh muridnya, tentu banyak pula dari mereka yang akan rusak dan mati jiwanya serta tumpul dalam semangat berfikirnya. Guru atau ustad harus mampu memperhatikan dan menjaga perbedaan individu santri dalam memberikan hukuman kepadanya. Hukuman yang hanya layak untuk anak laki-laki tidak boleh diberikan kepada anak perempuan, dan sebaliknya.

Sesunggunya tujuan menjatuhkan hukuman dalam pendidikan islam tiada lain hanya untuk memberikan bimbingan dan perbaikan. Disini harus diperhatikan watak dan kondisi peserta didik, sebelum seorang guru atau ustad menjatuhkan hukuman kepadanya. Melainkan harus memberikan keterangan kepadanya tentang kekeliruan yang dilakukannya, serta memaafkan kesalahan-kesalahan dan kealpaan ketika anak yang bersangkutan telah memperbaiki diri. Seorang guru atau seorang ustad lebih baik memiliki prinsip, lebih baik salah memafkan dari pada salah menghukum.

Model pemberian hukuman di pesantren harus berbeda dengan model pemberian hukuman di lembaga-lembaga pendidikan lainnya. Model pemberian hukuman yang tepat diberikan dipesantren.

Makna dan model pemberian hukuman dipesantren.

  1. Pengertian hukuman

Hukuman dalam pengertian etimologi adalah siksa dan sebagainya yang dikenakan kepada orang yang melanggar undang-undang dan sebagainya. Dalam kamus sosiologi dan kependidikan dijelaskan bahwa hukuman (punishmen) adalah suatu penderitaan sebagai suatu akibat dari perbuatan melanggar hukum, yang dijatuhkan secara resmi dari lembaga yang mempunyai wewenang yang sah. Secara terminologi dipaparkan mengenai hukuman berdasarkan para ahli.

Menurut A. Murshal HM Thahar, hukuman adalah suatu perbuatan menjatuhkan nestapa pada orang lain yang dilakukan seseorang secara sadar dan sengaja dengan tujuan untuk memperbaiki dirinya sendiri dari kelemahan jasmani dan rohani sehingga terhindar dari segala macam pelanggaran. Ngalim Purwanto mengatakan bahwa hukuman adalah penderitaan yang diberikan atau ditimbulkan dengan sengaja oleh seseorang (orang tua, guru, dan yang lainnya) sesudah terjadi suatu pelanggaran, kesalahan atau kelemahan. Sedangkan menurut Amir Daeni Indrakusumah, hukuman adalah tindakan yang dijatuhkan kepada anak secara sadar dan sengaja serta menimbulkan nestapa, sehingga anak menyadari kesalahan dan perbuatannya serta berjanji tidak mengulanginya lagi.

Pengertian diatas menggambarkan bahwa intisari pemberian hukuman adalah agar anak didik tidak lagi mengulangi perbuatan tercela yang telah dijatuhi hukumannya dengan sengaja. Maksudnya adalah anak didik tersebut menerima huuman dan merasa penderitaan yang bukan secara kebetulan dijatuhkan oleh pendidik. Adapun penderitaan yang tidak disengaja, maka penderitaan tersebut bukan termasuk hukuman yang mendidik. Tetapi termasuk hukuman alam seperti seorang anak yang tangannya terbakar karena bermain api dan lain sebagainya.

  1. Tujuan pemberian hukuman

Hukuman merupakan reaksi dari pendidik atas segala perbuatan salah yang dilakukan oleh peserta didik. Hukuman yang diberikan harus bisa membentuk tingkah laku yang diharapkan dan menghalangi pengukangan tingkah laku yang tidak diharapkan. Bila seorang anak pernah dihukum untuk satu kesalahan, ia akan berusaha untuk tidak melakukan kesalahan yang sama. Hukuman yang diberikan juga harus bersifat mendidik, sehingga sebelum anak mampu memahami aturan, ia bisa belajar tentang salah dan benar melalui hukuman yang diberikan ketika melakukan kesalahan. Hukuman juga harus memperkuat motivasi anak untuk menghindarkan diri dari tingkah laku yang tidak di harapkan.

Dalamlembaga pendidikan penggunaan atau pemberian hukuman bertujuan untuk memberikan motivasi anak didik supaya tidak mengulangi kesalahan, dan lebih giat dan semangat lagi dalam melakukan kebaikan dan ketaatan.

Motivasi ini bersifat ekstrinsik , yaitu dorongan atau rangsangan yang berasal dari luar sisi diri si anak. Misalnya anak belajar bahasa arab karena di dorong oleh nilai-nilai motivasi instrinsik. Sedangkan motivasi ekstrinsik adalah anak belajar bahasa arab karena ingin memperoleh hadiah.

Hukuman harus diberikan sebagai motivasi ekstrinsik bagi anak didik. Sebab tidak semua anak didik mempunyai nilai instrinsik yang kuat. Hal ini disebabkan beberapa faktor berikut :

pertama, corak pendidikan sejak kecil. Keluarga tidak pernah menantang anak agar memberikan prestasi yang dibanggakan dari usahanya sendiri.

Kedua, ketidakpastian cita-cita hidup.

Ketiga, keragu-raguan anak mengenai kemungkinan melanjutkan belajar ke perguruan tinggi.

Keempat, pengaruh teman sebaya yang tidak mengharagi prestasi belajar siswa.

Kelima, suasana belajar modern yang mendorong anak bersenang-senang tanpa usaha belajar secara maksimal.

Tujuan pemberian hukuman adalah agar anak terbeiasa melakukan pekerjaan baik. Dalam hal ini Imam Al-ghazali berkata : “Hendaknya anak-anak dicegah membuang ingus dan menguap ditempat umum, disecah jangan banyak omong, dilarang bersumpah sekalipun benar, dan dilarang tidur siang berlama-lama sebab akan membawa kemalasan. Anak harus disuruh berolah raga supaya tidak malas. Dan hal – hal buruk tersebut jangan dibiasakan sejak kecil.

  1. Syarat-syarat pemberian hukuman

Hukuman dan menghukum bukan persoalan individu, melainkan mempunyai sipat kemasyarakatan. Hukuman tidak boleh dilakukan sewenang-wenang menurut kehendak seseorang. Bahwkan menghukum adalah suatu perbuatan yang tidak bebas. Yang selalu mendapat pengawasan dari masyarakat dan negara. Apalagi hukuman yang bersifat pedagogis yang harus memiliki syarat-syarat tertentu yaitu :

  1. Setiap hukuman harus dapat dipertanggung jawabkan. Hukuman tidak boleh dilakukan sewenanwenang dan harus terikat oleh rasa kasih sayang terhadap anak.
  2. Hukuman harus bersifat memperbaiki dan mempunyai nilai mendidik (normatif) bagi si terhukum.
  3. Hukuman tidak boleh bersifat ancaman atau pembalasan dendam yang bersifat perorangan. Sebab akan menimbulkan keruksakan hubungan anatar pendidik dan terdidik.
  4. Jangan menghukum pada waktu sedang marah, sebab akan membuat hukuman tidak adil atau terlalu berat.
  5. Setiap hukuman harus diberikan secara sadar dan sudah diperhitungkan atau dipertimbangkan terlebih dahulu.
  6. Hukuman dalam perspektif Al-Qur’an

Hukuman atau funishment yang diberikan kepada siswa atau santri yang melakukan pelanggaran harus berdasarkan kepada pendidikan islam, sehingga salah satu tujuan pendidikan islam untuk melahirkan anak didik yang memiliki perilaku yang saleh bisa terwujud. Al-Qur’an sebagai acuan pertama pendidikan islam, telah menjelaskan hukuman secara global. Hukuman dalam Al-Qur’an diistilahkan dengan ’iqab atau ‘adzab atau istilah yang lain yang bermakna hukuman. Hukuman berlaku di dunia dan di akhirat. Hukuman diakhirat tentu lebih besar dibandingkan hukuman di dunia. Firman Alloh SWT :

Artinya : “Dan sesungguhnya kami merasakan kepada mereka sebagian adzab (hukuman) yang dekat (di dunia) sebelum adzab (hukuman) yang lebih besar (diakhirat). Mudah-mudahan mereka kembali (kejalan yang benar). “ (Q.S.as-sajdah : 21)

Dalam bidang pendidikan Al-Qur’an menggunakan metode pemberian hukuman tersebut semaksimal mungkin. Al-Qur’an melukiskan betapa dahsyat neraka yang sangat menakutkan. Al-Qur’an menjanjikan kebahagiaan kepada orang-orang yang bertaqwa, berjihad di jalan Alloh SWT, ikhlas menafkahkan sebagian harta bendanya. Al-Qur’an juga mengancam orang-orang kafir, dzalim, fasik, munafik, sombong, bakhil, penipu dan orang-orang berbuat dosa dengan ancaman neraka kelak diakhirat.

  1. Model pemberian hukuman
  2. Model ta’did al-mukhalafah, yaitu memberikan poin untuk setiap pelanggaran yang dilakukan santri ataw siswa. Maksudnya adalah setiap santri yang melakukan pelanggaran tata tertib pesantren atau madrasah akan mendapatkan poin pelanggaran mulai dari poin 0 sampai dengan 100 sesuai dengan jenis pelanggaran yang dilakukan.
  3. Model tadzkirah bi tadarruj, yaitu pemberian hukuman dengan cara memberikan peringatan (tadzkirah) kepada santri yang melakukan pelanggaran secara bertahap (tadarruj). Bentuk peringatan berupa SP (surat peringatan) yang berisi data jenis pelanggaran yang sudah dilakukan santri.
  4. Model Taushiyyah bi ar-rahmah, yaitu pemberian hukuman kepada santri atau siswa yang melakukan pelanggaran dengan cara menasihatinya dengan lemah-lembut dan penuh kasih sayang.
  5. Model ‘uqubah wa’izhah, yaitu model pemberian hukuman dengan jenis hukuman yang menjerakan dan memalukan santri. Model hukuman di pesantren ataw siswa sudah dianggap menjerakan, tetapi secara khusus digunakan pula model hukuman yang lebih menjerakan lagi.
  6. Model tarqiyyah ‘ilmiyyah wa ‘ubudiyyah, yaitu pemberian hukuman dengan jenis hukuman yang akan mampu meningkatkan prestasi ilmiah dan prestasi ibadah santri atau siswa yang melakukan pelanggaran.
  7. Model ‘uqubah mu’limah’, yaitu model pemberian hukuman dengan jenis hukuman yang menimbulkan rasa sakit pada salah satu anggota tubuh santri ataw siswa yang melakukan pelanggaran. Jenis model ini diterapkan di pesantren ataw siswa dalam bentuk pukulan. Ini dilakukan pada tahap terakhir, setelah model yang lain sudah diterapkan.

Kesimpulan dan Saran

Berdasarkan paparan yang disampaikan di tahap tahap atau bab-bab diatas, akan dikemukakan beberapa kesimpulan, saran dan harapan sebagai berikut :

  1. pendidikan islam adalah usaha maksimal untuk membina kepribadian anak didik berdasarkan ketentuan-ketentuan yang telah digariskan dalam Al-Qur’an dan Al-Hadist. Usaha tersebut senantiasa harus dilakukan melalui bimbingan, pengasuhan, dan didikan, dan sekaligus pengembangan potensi manusia untuk meningkatkan kualitas intelektual dan moral yang berpedoman pada syariat islam. Pendidikan merupakan proses perubahan sikap dan tingkah laku seseorang atau sekelompok orang dalam usaha mendewasakan manusia melalui upaya pengajaran dan pelatihan. Salah satu cara untuk mewujudkan cita-cita mulia tersebut adalah dengan menggunakan metode hukuman dalam melakukan proses pendidikan kepada anak didik.
  2. Pemberian hukuman dalam pendidikan islam adalah untuk memberikan bimbingan dan perbaikan, bukan untuk pembalasan atau kepuasan hati. Sebelum hukuman diberikan harus diperhatikan terlebih dahulu watak dan kondisi anak yang bersangkutan, memberikan penjelasan kepadanya tentang kekeliruan yang dilakukannya, dan memberikannya semangat untuk memperbaiki dirinya, serta memaafkan kesalahan-kesalahan dan kealpaannya saat anak yang bersangkutan telah memperbaiki dirinya.
  3. Pemberian hukuman harus dipandang sebagai suatu cara yang dapat membuat anak berperilaku sesuai dengan yang diharapkan. Hukuman harus membuat anak menampilkan tingkah laku yang sebenarnya, dan tidak hanya berpedoman pada apa yang ditakutkannya sebagai akibat dari kesalahan perbuatannya.
  4. Hukuman tidak boleh dipahami hanya sebagai pelengkap dalam sistem pendidikan dan proses pembelajaran. Hukuman dalam proses belajar tidak pernah dapat berdiri sendiri dan terlepas dari subsistem yang lain. Hukuman masuk dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dalam proses belajar.

Saran

  1. Pondok pesantren atau madrasah hendahnya senantiasa berupaya mencari dan mengaplikasikan model-model pemberian hukuman yang tepat yang mampu merubah perilaku siswa kearah yang lebih baik dan meningkatkan etos belajar santri, sehingga prestasi belajarnya semakin meningkat.
  2. Santri yang melakukan pelanggaran membutuhkan arahan dan bimbingan dari semua pihak. Oleh karena itu semua pihak diharapkan mampu memberikan kontribusi terbainya untuk kebaikan perilaku santri, peningkatan etos belajar dan kemajuan belajar.

 

 

Daftar Pustaka

A Malik Fajar, Holistika Pemikiran Islam, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2005).

Ahmad ‘Izzat Rajih, Ushul ‘Ilm an-Nafs, (Iskandariyah: al-Maktab al-Mishri al-Hadist, tth)

Al-Bukhori, Shahih al-Bukhori, Jilid 3, Juz 7. Muslim, Shahih Muslim.

Al-Ghazali, Ihya Ulum ad-Din, (Beirut: Dar Ihya Al-Turats, 2005).

Amir Daeni Indra Kusumah, Pengantar Ilmu pendidikan, (Surabaya: Usaha nasional, 2010).

Depdikbud, Kamus Besar Bahasa Indonesia, (Jakarta: Balai Pustaka, 1993), hal. 291.

Emile Durkhem, Moral Education, Ter, Lukas Ginting, (jakarta: Penerbit Erlangga, 1990)

Haedari Amin, Peantren dan Peradaban Islam, (Jakarta:Puspendalitbang Kemenag RI, 2010).

Ibnu Katsir, tafsir Al-Qur’anul A’dzim, (Beirut: Dar- Al-Fikr, 1992), Jilid 4, hal. 245. Ibnu Jarir Ath-Thobary, Jami’ al-bayan fi tafsir al-Qur’an al-‘Azhim, ( Cairo, 2002 M).

Ibnu Khladun, Muqadimmah Ibnu Khaldun,  (beirut: Dar al-Qolam, 2000).

  1. fadhil al-Jamal, Manhaj Attarbiyah Al-Qur’an, (Kairo: Maktabah Wahbah, tth)

Muhammad Nashih ‘Ulwan, Tarbiyah al-Aulad fi al-islam, (Beirut: dar as-salam)

Ngalim Purwanto, Ilmu pendidikan teoritis dan Praktis, (Bandung: Rosdakarya, 2009).

Ngalim Purwanto, Ilmu pendidikan Teoritis, (Bandung: Rosdakarya, 2012).

Ropik Khusnur, Khazanah Intelektual Pesantren, (Jakarta: Puspendalitbang Kemenag RI, 2010).

Sirozi Muhammad, Agenda Strategis pendidikan Islam.( Yogyakarta: AK Group, 2003).

Slameto, belajar dan faktor-faktor yang mempengaruhinya, ( Jakarta: Rineka Cipta, 2003).

  1. Weinkel, Psikologi pendidikan dan Evaluasi Belajar, (Jakarta: Bumi Aksara, 2009).

Zakiyah darajat, Ilmu Pendidikan Islam, (jakarta: Bulan Bintang, 2009)

 

 

 

 

 

 

  1. TULISAN TERKAIT