STAI YAMISA SOREANG

Jl. Raya Soreang No. 134 Desa. Pamekaran Kec. Soreang Kab. Bandung

Terakreditasi "B"

PENGARUH KEBERADAAN PERPUSTAKAAN MESJID TERHADAP MOTIVASI JEMAAH MESJID UNTUK MENELAAH AJARAN AGAMA ISLAM ( Studi Di Mesjid Agung Soreang )

Rabu, 16 Agustus 2017 ~ Oleh Admin ~ Dilihat 77 Kali

 

Oleh : Hery Saparudin, S.Pd.I., M.Pd.I

 

Abstrak

Perpustakaan mesjid merupakan salah satu sarana penunjang aktivitas masjid dalam usaha meningkatkan keimanan dan ketaqwaan para jemaahnya. Keberhasilan dari misi perpustakaan dapat tercapai apabila pengelolaannya di jalankan secara professional yang di jalankan oleh pustakawan yang ahli di dalam bidangnya. Di samping itu juga, kesadaran jemaah untuk membaca buku-buku terutama yang bernafaskan islami merupakan salah satu factor yang dapat menunjang keberhasilan misi perpustakaan masjid tersebut. Dengan demikian wawasan keagamaan dan motivasi baca jemaah mesjid akan meningkat. ternyata keberadaan mesjid di mesjid Agung Soreang memiliki intensitas sedang dengan nilai rata-rata 30,75 terbukti berada pada skala 27 – 34. sedangkan motivasi jemaah untuk menelaah ajaran agama islam di Masjid Agung Soreang memiliki intensitas sedang, dengan nilai rata-rata 32,11 terbukti berada pada sekala 27 – 34. Adapun korelasi hubungan antara variabel X dan variabel Y berdasarkan hitungan statistik di dapat nilai r = 0,46 – 0,70 yang berarti sedang. Sedangkan pengaruh variabel X pada variabel Y berdasarkan hitungan statistik di dapatkan nilai sebesar 12 %. Dengan demikian hipotesis yang di ajukan di terima dan hipotesis alternatifnya (Ha) dan letak hipotesis nol (Ho) artinya semakin baik keberadaan perpustakaan masjid maka semakin baik pula motivasi jemaah untuk menelaah ajaran agama islam di Masjid Agung Soreang.

 

Kata Kunci : Perpustakaan, Motivasi, Jemaah Mesjid, Membaca

 

Pendahuluan

Di dunia islam, mesjid merupakan tempat yang suci, yang berfungsi tidak hanya digunakan untuk melakukan ibadah sholat dan dzikir, melainkan juga merupakan tempat melakukan kegiatan sosial keagamaan. Bahkan lebih dari itu. Sebagaimana dikemukakan Sidi Gazalba (1962 :111) bahwa mesjid adalah pusat ibadah dan kebudayaan islam khususnya, dan pusat kehidupan islam pada umumnya. Dari berbagai potensi yang ada pada mesjid adalah sebagai pusat belajar dan mengajar. Disamping fungsinya yang utama sebagai tempat ibadah, Usaha kearah itu sudah banyak dilakukan oleh umat islam dan bersifat positip untuk syiar islam dan partisipasi umat islam untuk mensukseskan program wajib belajar, khususnya di Indonesia.

 Sebagai pusat belajar tersebut, adanya perpustakaan mesjid menjadi penting karena perpustakaan yang dikelola dan dimanfaatkan secara maksimal, merupakan sumber ilmu pengetahuan, sehingga keberadaan mesjid menjadi lebih konstruktip bagi peningkatan kualitas umat. M Kailani Eryono (1991 : 11) mengatakan bahwa :”Pada zaman keemasan islam khususnya zaman pemerintahan Abbasiyyah (750-1258 H), perpustakaan tumbuh seperti jamur di musim hujan. Nizamul Muluk mendirikan perpustakaan di perguruan tinggi Nizamiyah, dan khalifah Muntasir yang penuh dengan kitab-kitab berharga. Sejarah mencatat bahwa disekitar kota Bagdad terdapat kurang lebih 400 buah perpustakaan.

Selanjutnya M Kailani Eryono (1991: 12-13) menjelaskan  bahwa beberapa penunjang tumbuhnya faktor perpustakaan pada waktu itu adalah sebagai berikut :

Kecintaan umat islam terhadap ilmu pengetahuan

Adanya wakaf dalam islam

Perhatian khalifah sebagai pemimpin islam dan umat islam akan perkembangan dengan ilmu pengetahuan

Adanya para penterjemah yang bekerja dengan sungguh-sungguh.

Perkembangan perpustakaan pada zaman modern adalah sangat pesat setelah ditemukannya mesin cetak yang memungkinkan penyebaran pengetahuan seluas mungkin dengan biaya yang relative murah.

Di Indonesia perkembangan perpustakaan mesjid telah dicanangkan oleh menteri  Agama Republik Indonesia sejak dikukuhkannya Badan Pembina perpustakaan Mesjid Indonesia pada tanggal 25 pebruari 1991. Badan ini dibentuk oleh Dewan Mesjid Indonesia dengan SK. Nomor 06/DNI/PP/KPTS/II/1991 dan keberadaannya sampai tingkat kecamatan di seluruh tanah air. Keberadaan perpustakan mesjid dapat menambah daya tarik jemaah untuk lebih sering datang dan lebih lama tinggal di mesjid untuk ibadah rutin dan melakukan penelaahan agama dengan membaca buku-buku atau kitab-kitab yang ada diperpustakaan.

Dari studi pendahuluan yang dilakukan di mesjid Agung Soreang, diperoleh data bahwa sejak berdirinya perpustakaan mesjid, kuantitas jemaah menjadi semakin meningkat tertutama para remaja. Di samping itu, tampaknya jemaah mesjid dapat semakin kritis dan selektif dalam menerima ajaran agama dari para mubaligh, karena mereka sering membaca berbagai kepustakaan. Mereka seringkali meneliti dan menanyakan dasar atau hukum ajaran agama yang disampaikan. Fenomena tersebut mendorong upaya penelitian untuk mengetahui sejauhmana pengaruh keberadaan perpustakaan mesjid terhadap motivasi jemaah mesjid menelaah ajaran islam. Penulis menuangkan dalam penelitaian ini dengan judul “ Pengaruh Keberadaan Perpustakaan Mesjid Terhadap Motivasi Jemaah Untuk Menelaah Ajaran Agama Islam.

 Rumusan Masalah

Dari latar belakang diatas, maka penulis dapat mengidentifikasi bahwa masalah pokok yang akan dianalisis dalam penelitian ini adalah:

  1. Bagaimana keberadaan perpustakaan di Mesjid Agung Soreang?
  2. Bagaimana Motivasi jemaaah mesjid Agung dalam menelaah ajaran agama islam di mesjid Agung Soreang?
  3. Bagaimana pengaruh keberadaan perpustakaan mesjid terhadap motivasi jemaahnya untuk menelaah ajaran agama islam di mesjid Agung?

 

  1. Kerangka Penelitian

Mesjid dalam kehidupan umat islam memiliki banyak fungsi. Salah satunya adalah untuk pendidikan. Dalam semua jenjang dan bentuk pendidikan, buku memegang peranan penting sebagai sarana belajar yang berisikan rekaman ilmu. Untuk itu setiap lembaga pendidikan, kelompok masyarakat ataupun mesjid dipandang perlu menyediakan sarana bacaan yang diatur dengan standar perpustakaan. Dalam hal ini, Lasa Hs (1994 :2) menyatakan bahwa Perpustakaan yang dalam bahasa arab disebut ‘maktabah’ merupakan kumpulan bahan informasi yang terdiri dari bahan buku material dan bahan non buku material yang disusun dengan sistem tertentu. Bahan itu dipersiapkan sedemikian rupa untuk diambil manfaatnya sebagian atau keseluruhan.

Dari pengertian diatas maka dapat disimpulkan bahwa perpustakaan mesjid adalah suatu tempat menyimpan berbagai bahan informasi baik berupa buku ataupun bukan buku yang berada di lingkungan mesjid untuk diambil manfaatnya oleh jemaah mesjid dan masyarakat sekitar.

Menurut Lasa Hs. (1994: 4-7 ) mengatakan bahwa perpustakaan mesjid mempunyai beberapa fungsi yaitu :

  1. Sumber informasi
  2. Tempat belajar
  3. Media menciptakan gemar membaca
  4. Peningkatan kualitas kehidupan jasmaniah dan rohaniah
  5. Dokumentasi dan informasi ilmiah
  6. Media dakwah

Adapun tingkatan perpustakaan mesjid diatur dan disesuaikan dengan Pedoman Penyelenggaraan Perpustakaan Mesjid Indonesia ( PPPMI ) yaitu sebagai berikut :

  1. Perpustakaan mesjid pemula
  2. Perpustakaan mesjid madya
  3. Perpustakaan mesjid utama

Faktor yang mempengaruhi keberadaan perpustakaan mesjid antara lain menurut Lasa Hs (1991 :8) yaitu ;

  1. Adanya dana bagi penyelenggara dan kelangsungan perpustakaan
  2. Adanya koleksi bahan pustaka
  3. Adanya tenaga yang mengelola perpustakaan
  4. Memiliki ruangan yang layak bagi perpustakaan.

Adapun indikator pelayanan perpustakaan mesjid menyangkut dua pokok yaitu :

  1. Menyediakan koleksi buku yang sesuai dengan tujuan dan kegiatan jemaah mesjid atau msyarakat
  2. Memberi bantuan dan mencari keterangan yang diperlukan oleh jemaah atau masyarakat

Kemudian menurut Ngalim purwanto (1990:70) motivasi ini memiliki fungsi untuk :

  1. Motif itu mendorong manusia untuk berbuat sesuatu.
  2. Motif untuk menentukan arah perbuatan.
  3. Motif untuk menyeleksi perbuatan.

Menurut Tabrani Rusyana (1989:106) bahwa bentuk-bentuk motivasi adalah :

  1. Mendekatkan tujuan.
  2. Tujuan yang jelas dan diakui.

Ada beberapa Faktor yang mempengaruhi terhadap motivasi jemaah mesjid adalah :

  1. Faktor dari dalam individu yang terdiri dari ;
  2. Faktor luar yang meliputi ;

Indikator motivasi jemaah mesjid untuk menelaah ajaran agama islam adalah :

  1. Tumbuhnya sikap disiplin.
  2. Adanya minat dan perhatian yang serius.
  3. Adanya partisipasi yang kompak.
  4. Adanya inisiatif dan kreativitas dari individu/kelompok.

Dari uraian diatas nampak jelas bahwa keberadaan perpustakaan mesjid dengan motivasi jemaah mesjid menelaah ajaran agama islam terdapat hubungan erat. Motivasi jemaah mesjid menelaah ajaran agama islam dapat tumbuh dan berkembang jika dipengaruhi oleh dua faktor yaitu faktor intern dan faktor ekstern. Keberadaan perpustakaan mesjid merupakan salah satu faktor ekstern.

Kerangka pemikirannya dapat dilihat dalam skema berikut;

                Keberadaan perpustakaan

                 Mesjid.                   

 

Motivasi jemaah mesjid menelaah

Ajaran agama islam.

Variabel X

 

Variabel Y

-Tujuan dan fungsi.

-Tingkatan-tingkatan.

-Faktor-faktor yang mempengaruhi.

-Indikator.

 

-Tujuan dan fungsi.

-Bentuk-bentuk.

-Faktor-faktor yang mempengaruhi.

-Indikator.

  1. Langkah-langkah Penelitian

Untuk melakukan sebuah penelitian dibutuhkan langkah-langkah sebagai berikut ;

  1. Melakukan studi pendahuluan.
  2. Merumuskan masalah
  3. Menentukan metode penelitian
  4. Menentukan populasi dan sampel

Populasi adalah keseluruhan objek penelitian, dan sampel adalah sebagian dari keseluruhan objek yang diteliti dan diambil dengan menggunakan teknik tertentu.( Suharsimi Arikunto 1991 : 102 ). Dalam penelitian ini yang menjadi populasi penelitian adalah seluruh anggota perpustakaan mesjid Agung Soreang. Anggota perpustakaan mesjid dalam penelitian ini diklasifikasikan menjadi tiga kelompok berdasarkan usianya, yaitu kelompok anak-anak ( Usia  kurang dari 15 tahun ), Kelompok remaja (usia 15-25 tahun ) dan kelompok dewasa (usia diatas 25 tahun).

Suharsimi (1986 : 107 ) berpendapat bahwa jika objeknya kurang dari 100, lebh baik diambil semuanya, sehingga penelitiannya merupakan penelitian populasi. Selanjutnya jika objeknya lebih dari 100, maka sampel dapat diambil 10% - 15% atau 20% - 25% atau lebih. Berdasarkan pendapat diatas maka penulis mengambil seluruh populasi dalam penelitian ini karena anggota perpustakaan mesjid berjumlah 56 orang.

Untuk lebih jelasnya tentang populasi dan sampel dapat dilihat pada tabel berikut :

TABEL I KEADAAN POPULASI DAN SAMPEL

No

Kelompok usia jemaah

Jumlah

Keterangan

1

Anak-anak( < 15 Tahun)

14

 

2

Remaja ( 15 -25 tahun)

32

 

3

Dewasa ( > 25 tahun )

10

 

Jumlah

56

 

 

  1. Menentukan jenis data dan teknik pengumpulan data

Jenis data yang diperoleh terbagi menjadi dua bagian yaitu data kualitatif dan data kuantitatif. Data kualitatif akan dianalisis melalui pendekatan logika, sedangkan data kuantitatif akan diolah dengan pendekatan analisa statistik.

Adapun teknik pengumpulan data kualitatif yang akan dipergunakan adalah sebagai beriikut :

  1. Kepustakaan
  2. Observasi
  3. Wawancara
  4. Dokumentasi

Untuk memperoleh gambaran tentang keberadaan perpustakaan mesjid dan pengaruhnya terhadap motivasi jemaah mesjid dalam menelaah ajaran agama islam di mesjid Agung Soreang. Maka akan digunakan angket tertutup pada responden. Angket tertutup adalah angket yang terdiri dari sejumlah jawaban yang telah ditentukan ( Nasution 1982 : 150 ) oleh karena itu pengisian angket tertutup. Reponden cukup membubuhkan tanda silang (X) pada jawaban yang dipilihnya.

  1. Menentukan teknik pengolahan data dan analisa data
  2. Tes normative distribusi masing-masing variabel dengan langkah-langkah sebagi berikut :
  3. Menentukan rata-rata masing-masing variabel, dengan rumus :

                                            ( Sudjana 1986 :66 )

2.Mencari standar deviasi dengan rumus :

            ( Sudjana 1986 ; 270 )

  1. Mencari nilai chi kuadrat dengan rumus

                                 ( Sudjana 1986 ; 270 )

  1. Menguji linieritas data dengan langkah-langkah sebagai berikut :
  2. Menentukan rumus persamaan regresi linier yaitu ;

     Y = a + bx

     Y = Variabel bebas

      X = Variabel terikat

      A dan b = koefisien arah regresi

  1. Menghitung jumlah kuadrat (b/a) dengan rumus ;

            ( Sudjana 1986 :313 )

  1. Menghitung jumlah kuadrat residu dengan rumus :

                            ( Sudjana 1986 : 316 )

  1. Menghitung jumlah kuadrat kekeliruan dengan rumus :

                        ( Sudjana 1986: 316)

  1. Menghitung jumlah kuadrat tuna cocok degan rumus ;

                               ( Sudjana 1986 ; 317)

  1. Menghitung kriteria pengujian regresi :

    Jika f hitung lebih kecil dari f daftar, maka variable X dan Y regresi linier.

  1. Menghitung nilai koefisian korelasi dengan rumus ;

        ( Sudjana 1986:318)

            Nilai r diinterprestasikan dengan ketentuan sebagai berikut :

   0,00 – 0,20 = sangat rendah

   0,20 – 0,40 = rendah

   0,40 – 0,60 = sedang

   0,60 – 0,80 = tinggi

   0,80 – 1,00 = sangat tinggi

( Suharsimi Arikunto 1989 : 209 )

d.Bila data tidak normal atau tidak linier maka digunakan rumus rank               ( Spearman ), Rank different methode of apearman yaitu :

               ( Endi nugraha 1985 : 70 )

  1. Mengukur derajat pengaruh variabel x terhadap variabel Y dengan rumus ;

E = 100 ( 1 – K ) dimana             ( A Hasan Gaos 1983 : 118 )

  1. Langkah terakhir adalah menarik kesimpulan dari hasil analisis konsep dan empiris.

 

KESIMPULAN DAN SARAN

  1. Kesimpulan

Setelah dilakukan analisis kualitatif dan analisis kuantitatif terhadap data yang diperoleh dari penelitian yang dilaksanakan di mesjid Agung, tentang pengaruh keberadaan perpustakaan mesjid terhadap motivasi jemaaah mesjid untuk menelaah ajaran agama islam maka dapat disimpulkan sebagai berikut :

  1. Keberadaan perpustakan mesjid Agung Soreang dilihat dari tujuan, fungsi, factor yang mempengaruhinya serta indikatornya menunjukan “ sedang ”. Dengan nilai rata-rata sebesar “ 30,75 “ yang dihasilkan dari uji statistik dan nilai ini berada pada daerah interval antara 27 – 34 .
  2. Motivasi jemaah mesjid untuk  menelaah  ajaran agama  islam  di  mesjid  Agung Soreang, dilihat dari tujuan dan fungsi, faktor yang mempengaruhi dan indikatornya menunjukan nilai “ sedang “ dengan nilai rata-rata sebesar 32,11 yang dihasilkan dari uji statistik dan nilai tersebut berada pada daerah interval antara 27-34.
  3. Koefisien korelasi antara variabel X ( keberadaan perpustakaan mesjid ) dengan variabel Y ( motivasi jemaah mesjid untuk menelaah ajaran agama islam ) di mesjid Agung Soreang menunjukan korelasi sebesar 0,46 ( korelasi yang positif ) yang berada pada kriteria penafsiran koefisien korelasi 0.40 – 0.70 yang berarti  “ sedang “ . dengan menggunakan taraf kepercayaan 0.95 dan taraf signifikan 0.05. hal ini berarti semakin baik keberadaan perpustakaan mesjid, maka akan semakin baik pula motivasi jemaah mesjid untuk menelaah ajaran agama islam. Dengan demikian hipotesis yang diajukan dalam penelitian ini terima hipotesis alternative ( Ha ) dan tolak hipotesis nol ( Ho ).
  4. Adapun Pengaruh variabel X ( keberadaan perpustakaan mesjid ) terhadap variabel Y ( motivasi jemaah mesjid untuk menelaah ajaran agama islam ) dari hasil perhitungan statistik sebesar 12 % . artinya motivasi jemaah mesjid untuk menelaah ajaran agama islam dipengaruhi oleh keberadaan perpustakaan mesjid sebesar 12 %. Dengan demikian masih banyak faktor lain yang berpengaruh terhadap variabel Y ( motivasi jemaah mesjid untuk menelaah ajaran agama islam ) sebesar 88 %.
  5. Saran – saran

Dari hasil penelitian tersebut, akhirnya dirasakan perlu untuk memberikan saran-saran untuk perbaikan dimasa mendatang, antara lain sebagai berikut ;

  1. Dalam hubungannya dengan keberadaan perppustakaan mesjid, ternyata perpustakaan mesjid memegang peranan penting dalam rangka peningkatan mutu pendidikan, khususnya pendidikan agama islam. Oleh karena itu diharapkan manajemen kepustakaan semakin ditingkatkan lagi dengan cara mengikuti diklat-diklat yang dilaksanakan oleh perpustakaan khusus / umum yang sudah maju.
  2. Dalam hubungannya dengan motivasi jemaah mesjid untuk menelaah ajaran agama islam, ternyata dapat mempengaruhi terhadap peningkatan keimanan dan ketaqwaan individu. Oleh karena itu tumbuh-kembangkan rasa cinta pada ilmu pengetahuan.
  3. Kepada pemerntah setempat selaku pimpinan daerah, diharapkan untuk selalu membina, membimning dan membantu terhadap kegiatan pepustakaan mesjid.
  4. Aktivitas perpustakaan mesjid didominasi oleh kaum remaja dan relatif sedikit orang tua harus memberikan tauladan pada ank-anaknya. Oleh karena itu menghimbau kepada orang tua selaku pendidik anak dilingkungan keluarga untuk selalu memberikan contoh tauladan.

 

 

DAFTAR PUSTAKA

Abdul Azis Batjo, dkk. 1991. Pedoman Perputakaan mesjid. Pusat Perpustakaan Islam Indonesia  dan Perhimpunan pengembangan Pesantren dan Masyarakat. Jakarta

Endi nugraha. 1985.Statistik untuk penelitian. CV Permadi : Bandung

Lasa Hs. 1994.            Pengadaan Perpustakaan mesjid . Makalah MUI: Soreang

Lasa Hs.1994.Penyusunan Bahan pustaka. Makalah MUI Soreang

Lasa Hs.1994. Pengelolaan Terbitan Berkala. Kanisius. Yogyakarta

Lasa Hs.1994. Pelayanan  informasi perpustakaan. Makalah penataran pengelolaan perpustakaan mesjid MUI Soreang

Ngalim Purwanto.1990.Psikologi Pendidikan. PT, Remaja Rosda karya. Bandung

Nurhadi. 1983.Perpustakaan kusus. Proyek Organisasi dan Administrasi LIPi. jakarta

Poerwadarminta. 1985.Kamus Umum Bahasa Indonesia. Balai Pustaka. Jakarta

Purwono.1994.Manajemen perpustakaan mwsjid. Makalah penataran pengelolaan perpustakaan mesjid MUI Soreang.

...........1994.KlasifikasiMakalha penataran pengelolaan perpustakaan mesjid MUI Kec, Soreang

Sidi Al-Gazalba.1962.            Mesjid pusat ibadah dan kebudayaaan islam. Pustaka Antara .      Jakarta

Suharsimi Arikunto.1985.Dasar-dasar Evaluasi Pendidikan. Bumi Aksara. Jakarta

Sumpeno Wahyudin.1994.Perpustakaan mesjid : pembinaan dan pengembangan. Rosda Karya. Bandung

Syafri Sofyan. 1993.Manajemen Mesjid. Dana Bakti Wakaf. Yogyakarta

 

  1. TULISAN TERKAIT